
| Category: | Books |
| Genre: | Arts & Photography |
| Author: | Magarita Winkel |
Jepang tempo doeloe! itu lah kata kata yang pas untuk menggambarkan buku yang berjudul "Souvenirs from Japan" ini.
Buku ini disusun oleh Magarita Winkel dan diterbitkan oleh Bamboo Publishing Ltd. London.
Buku ini berisikan foto foto Jepang tempo doeloe yang mungkin amat langka bagi kita untuk melihatnya.
Buku ini dibuat berdasarkan kumpulan foto Jepang tempo doeloe yang disebut sebagai “The Schilling collection”, yang dulunya merupakan cinderamata dari kunjungan (baca : Souvenirs) ke Jepang bagi orang orang barat. Ya, kalau boleh dibilang semacam kartu pos wisata lah, walau saya enggan menyebutnya demikian karena memang bukan kartu pos melainkan foto foto yang digunakan sebagai cinderamata wisata tempo doeloe di Jepang.
Schilling sendiri adalah seorang insinyur kehutanan dari Jerman yang sempat tinggal beberapa lama di Jepang.

Semua foto tempo doeloe Jepang ini diambil pada era Meiji, era Meiji adalah era keterbukaan bangsa Jepang terhadap bangsa/pengaruh dari luar Jepang, anda mungkin sudah tahu bahwa bangsa Jepang dulunya adalah bangsa yang sangat tertutup terhadap bangsa luar Jepang, bukan tertutup sih tapi tepatnya politik menutup diri.
Nah di era Meiji inilah pengaruh budaya luar mulai merebak di Jepang, salah satunya yaitu budaya fotografi.
“Foto”, di Jepang dikenal sebagai “Shashin”, yang berarti mereproduksi/mendupliklat kehidupan.
Bangsa Jepang kemudian mengenal budaya fotografi untuk souvenir, karena orientasi foto souvenir ini adalah bangsa barat/wisatawan yang berkunjung ke Jepang, maka umumnya adalah obyek fotonya adalah stereotype imej bangsa Jepang di mata bangsa barat, seperti misalnya upacara minum teh, gadis jepang yang berkimono indah sedang bermain alat musik tradisional Jepang, para samurai lengkap dengan kostum kebesarannya, kehidupan pedesaan, dll.
Mengenai foto diri, foto diri pada jaman itu adalah sebuah trend yang cukup mewabah di Jepang pada saat pengenalan fotografi di Jepang.
Namun pada umumnya, pada saat itu obyek foto diri adalah para geisha sebagai ajang “promosi diri” pada khalayak ramai… jadi yang gemar narsis di Jepang pada saat itu adalah para geisha…hehehehehe

Karena pada jaman tempo doeloe Jepang belum mengenal adanya foto berwarna, maka muncul suatu teknik pewarnaan foto secara manual, maksud saya disini adalah diwarnai dengan mengunakan kuas atau biasa disebut “hand-coloured”.
Teknik pewarnaan manual ini diperkenalkan oleh Wirgman dan Beato kepada bangsa Jepang pada tahun 1880-an. Teknik pewarnaan ini menjadi lahan pekerjaan baru bagi seniman “gambar balok kayu” yang mana semenjak hadirnya foto di Jepang, otomatis “menghancurkan” lahan kerja para seniman “gambar balok kayu”. “Gambar balok kayu’ atau biasa disebut “Nihon-E” adalah suatu seni lukis/gambar Jepang pada balok kayu.
Karenanya, dalam buku “Souvenirs from Japan” ini selain ditampilkan foto foto hitam putih, juga ditampilkan foto foto “berwarna”, yang notabene itu adalah pewarnaan tangan, saya akui para seniman pewarnaan manual itu bekerja sangat teliti dan rapi, sehingga “foto warna” yang ditampilkan nampak tampil indah. Malah ada beberapa foto yang menampikan foto gunung Fuji yang berbalut awan, awan itu adalah gambaran tangan! Suatu teknik fotografi yang dipadu dengan seni lukis Jepang!
Buku ini bagaikan buku sejarah budaya bergambar bangsa Jepang, kita bisa melihat masa dimana bangsa Jepang ini mulai mengenal modernisasi.
Bahkan kita bisa melihat sebuah bangunan tingkat tinggi “The 12 Stories of Asakusa” yang oleh orang Jepang disebut “Juunikai”, sebuah bangunan 12 lantai (mungkin ini yang pertama di Jepang pada masa itu), yang mana didesain oleh arsitek Inggris, William K. Barton, bangunan ini adalah bangunan pertama di Jepang yang menggunakan lift (elevator) yang diimpor dari Amerika pada masa itu. Dan bangunan itu adalah semacam Interantional Trade Center pada masa itu, sebab bangunan itu adalah kumpulan toko toko yang menjual barang-barang dari seluruh dunia. Namun sayang akibat gempa bumi tahun 1894 bangunan itu rusak dan pada akhirnya dimusnahkan. Jadi foto ini adalah dokumentasi yang yang sangat berharga bagi bangsa Jepang.
Ada juga foto Komusou (semacam pendeta Zen) dari sekte Fuku, yang saya bilang unik kostumnya, yaitu penggunaan semacam tudung bamboo yang menutupi kepala mereka, yang mengingatkan saya pada salah satu karakter game “Samurai Spirits”… hehehe…

Juga ada foto foto yang membuat saya tersenyum pahit, yaitu foto foto area Yoshiwara, suatu red district di Edo (sekarang Tokyo), nampak pada foto foto tersebut bangunan rumah “hahahihi” yang menunjukkan para gadis dengan balutan kimono duduk berderet pada “display” bangunan, lengkap dengan mucikarinya… memang pada jaman dahulu banyak keluarga miskin Jepang yang “menjual” anak gadis mereka untuk hal tersebut… hal ini mengingatkan saya akan film yang pernah saya liat yaitu “Memoirs of Geisha” dan “Yoshiwara Enjou” (gadis pembantu dari Yoshiwara).. dari judulnya tahu kan apa cerita dari film tersebut.. yup, tentang kehidupan geisha pada masa Meiji.. ternyata film tersebut memang berdasar kehidupan prostitusi yang memang ada pada jaman tersebut…
Juga ada foto menarik bangsa Ainu, tau kan kalau bangsa Ainu adalah bangsa asli Jepang. Nampak dalam foto adalah pasangan bangsa Ainu lengkap dengan baju tradisional mereka, yang mana sang wanita men-tatto mulutnya, sehingga terkesan lebar…
Kalau anda ingat serial TV “Oshin”, tentu anda ingat profesi mula mula Oshin, yaitu sebagai pengasuh bayi, dalam buku ini juga ditunjukkan beberapa foto gadis belia yang menggendong bayi ala Oshin tersebut…
Kita akan diajak kembali menuju jaman tempo doeloe bangsa Jepang membaca dan melihat foto foto yang ditampilkan dalam buku ini.
Mengenai Magarita Winkel, beliau adalah seorang antropolog yang tertarik meneliti budaya Jepang melalui foto foto Jepang tempo doeloe .
Thanks for Mr. Raap, who gave me this book, since he know that I’m a Japanese Freak! Hehehehe… Arigatou gozaimasu RA-PPU-san!!