Kamis, 27 Mei 2010

ReviewReviewReviewReviewReview Kursi Roda Doraemon (Doraemon No Kuruma-isu No Hon)


Category:Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author:Fujiko F. Fujio & Kyoyo-hin Foundation
Sebuah buku yang menarik untuk dibaca. “Kursi Roda Doraemon” (judul aslinya adalah “Doraemon No Kuruma-isu No Hon”), di Indonesia buku ini diterbitkan oleh Elexmedia Komputindo. Buku ini berisikan dokumentasi seorang anak cacat bernama Ishikawa Hakuto, sebuah manga (komik) Doraemon dengan tema anak cacat pengguna kursi roda (kuruma-isu), dan juga berisikan curahan hati seorang pengguna kursi roda di Jepang berikut dengan tips-tips menjadi attendant (perawat pengguna kursi roda). Buku ini disusun oleh Yayasan Kyoyo-Hin. Sebuah yayasan yang merupakan perkumpulan perusahaan swasta yang peduli akan pengguna kursi roda, khususnya di Jepang. Dengan membaca buku ini kita bisa mengetahui tentang kehidupan seorang pengguna kursi roda, berikut kendala apa saja yang dihadapi pengguna kursi roda. Kita bisa mengetahui banyak hal. Seperti bagian-bagian dari kursi roda, polling para penyandang cacat akan hal-hal yang membutuhkan perhatian dari semua orang akan keadaan mereka, berikut fakta-fakta dokumentasinya (foto-foto serta ilustrasi gambar). Sebuah buku yang bukan sekedar manga, manganya sendiripun dibuat berdasarkan data-data yang ada, yang kemudian dibumbui unsur fantasi seperti kebanyakan pada manga Doraemon versi reguler. Sebuah usaha yang tepat dari Yayasan Kyoyo-Hin untuk menggandeng ikon anime Jepang yang cukup popular di dunia, yaitu Doraemon, untuk menerbitkan buku ini. Tentunya harapan mereka adalah melalui bacaan yang ringan (manga), tanpa kesan menggurui, masyarakat lebih peduli pada pengguna kursi roda setelah membaca buku ini. Usaha yang mulia bukan? Sudahkah kita peduli dengan saudara-saudara kita yang menggunakan kursi roda? Saya merekomendasikan untuk membaca buku ini dan semoga bermanfa’at bagi anda dan menambah wawasan anda tentang pengguna kursi roda…

Souvenirs From Japan


Category:Books
Genre: Arts & Photography
Author:Magarita Winkel
Jepang tempo doeloe! itu lah kata kata yang pas untuk menggambarkan buku yang berjudul "Souvenirs from Japan" ini.
Buku ini disusun oleh Magarita Winkel dan diterbitkan oleh Bamboo Publishing Ltd. London.
Buku ini berisikan foto foto Jepang tempo doeloe yang mungkin amat langka bagi kita untuk melihatnya.
Buku ini dibuat berdasarkan kumpulan foto Jepang tempo doeloe yang disebut sebagai “The Schilling collection”, yang dulunya merupakan cinderamata dari kunjungan (baca : Souvenirs) ke Jepang bagi orang orang barat. Ya, kalau boleh dibilang semacam kartu pos wisata lah, walau saya enggan menyebutnya demikian karena memang bukan kartu pos melainkan foto foto yang digunakan sebagai cinderamata wisata tempo doeloe di Jepang.
Schilling sendiri adalah seorang insinyur kehutanan dari Jerman yang sempat tinggal beberapa lama di Jepang.




Semua foto tempo doeloe Jepang ini diambil pada era Meiji, era Meiji adalah era keterbukaan bangsa Jepang terhadap bangsa/pengaruh dari luar Jepang, anda mungkin sudah tahu bahwa bangsa Jepang dulunya adalah bangsa yang sangat tertutup terhadap bangsa luar Jepang, bukan tertutup sih tapi tepatnya politik menutup diri.
Nah di era Meiji inilah pengaruh budaya luar mulai merebak di Jepang, salah satunya yaitu budaya fotografi.
“Foto”, di Jepang dikenal sebagai “Shashin”, yang berarti mereproduksi/mendupliklat kehidupan.
Bangsa Jepang kemudian mengenal budaya fotografi untuk souvenir, karena orientasi foto souvenir ini adalah bangsa barat/wisatawan yang berkunjung ke Jepang, maka umumnya adalah obyek fotonya adalah stereotype imej bangsa Jepang di mata bangsa barat, seperti misalnya upacara minum teh, gadis jepang yang berkimono indah sedang bermain alat musik tradisional Jepang, para samurai lengkap dengan kostum kebesarannya, kehidupan pedesaan, dll.
Mengenai foto diri, foto diri pada jaman itu adalah sebuah trend yang cukup mewabah di Jepang pada saat pengenalan fotografi di Jepang.
Namun pada umumnya, pada saat itu obyek foto diri adalah para geisha sebagai ajang “promosi diri” pada khalayak ramai… jadi yang gemar narsis di Jepang pada saat itu adalah para geisha…hehehehehe



Karena pada jaman tempo doeloe Jepang belum mengenal adanya foto berwarna, maka muncul suatu teknik pewarnaan foto secara manual, maksud saya disini adalah diwarnai dengan mengunakan kuas atau biasa disebut “hand-coloured”.
Teknik pewarnaan manual ini diperkenalkan oleh Wirgman dan Beato kepada bangsa Jepang pada tahun 1880-an. Teknik pewarnaan ini menjadi lahan pekerjaan baru bagi seniman “gambar balok kayu” yang mana semenjak hadirnya foto di Jepang, otomatis “menghancurkan” lahan kerja para seniman “gambar balok kayu”. “Gambar balok kayu’ atau biasa disebut “Nihon-E” adalah suatu seni lukis/gambar Jepang pada balok kayu.
Karenanya, dalam buku “Souvenirs from Japan” ini selain ditampilkan foto foto hitam putih, juga ditampilkan foto foto “berwarna”, yang notabene itu adalah pewarnaan tangan, saya akui para seniman pewarnaan manual itu bekerja sangat teliti dan rapi, sehingga “foto warna” yang ditampilkan nampak tampil indah. Malah ada beberapa foto yang menampikan foto gunung Fuji yang berbalut awan, awan itu adalah gambaran tangan! Suatu teknik fotografi yang dipadu dengan seni lukis Jepang!
Buku ini bagaikan buku sejarah budaya bergambar bangsa Jepang, kita bisa melihat masa dimana bangsa Jepang ini mulai mengenal modernisasi.
Bahkan kita bisa melihat sebuah bangunan tingkat tinggi “The 12 Stories of Asakusa” yang oleh orang Jepang disebut “Juunikai”, sebuah bangunan 12 lantai (mungkin ini yang pertama di Jepang pada masa itu), yang mana didesain oleh arsitek Inggris, William K. Barton, bangunan ini adalah bangunan pertama di Jepang yang menggunakan lift (elevator) yang diimpor dari Amerika pada masa itu. Dan bangunan itu adalah semacam Interantional Trade Center pada masa itu, sebab bangunan itu adalah kumpulan toko toko yang menjual barang-barang dari seluruh dunia. Namun sayang akibat gempa bumi tahun 1894 bangunan itu rusak dan pada akhirnya dimusnahkan. Jadi foto ini adalah dokumentasi yang yang sangat berharga bagi bangsa Jepang.
Ada juga foto Komusou (semacam pendeta Zen) dari sekte Fuku, yang saya bilang unik kostumnya, yaitu penggunaan semacam tudung bamboo yang menutupi kepala mereka, yang mengingatkan saya pada salah satu karakter game “Samurai Spirits”… hehehe…



Juga ada foto foto yang membuat saya tersenyum pahit, yaitu foto foto area Yoshiwara, suatu red district di Edo (sekarang Tokyo), nampak pada foto foto tersebut bangunan rumah “hahahihi” yang menunjukkan para gadis dengan balutan kimono duduk berderet pada “display” bangunan, lengkap dengan mucikarinya… memang pada jaman dahulu banyak keluarga miskin Jepang yang “menjual” anak gadis mereka untuk hal tersebut… hal ini mengingatkan saya akan film yang pernah saya liat yaitu “Memoirs of Geisha” dan “Yoshiwara Enjou” (gadis pembantu dari Yoshiwara).. dari judulnya tahu kan apa cerita dari film tersebut.. yup, tentang kehidupan geisha pada masa Meiji.. ternyata film tersebut memang berdasar kehidupan prostitusi yang memang ada pada jaman tersebut…
Juga ada foto menarik bangsa Ainu, tau kan kalau bangsa Ainu adalah bangsa asli Jepang. Nampak dalam foto adalah pasangan bangsa Ainu lengkap dengan baju tradisional mereka, yang mana sang wanita men-tatto mulutnya, sehingga terkesan lebar…
Kalau anda ingat serial TV “Oshin”, tentu anda ingat profesi mula mula Oshin, yaitu sebagai pengasuh bayi, dalam buku ini juga ditunjukkan beberapa foto gadis belia yang menggendong bayi ala Oshin tersebut…
Kita akan diajak kembali menuju jaman tempo doeloe bangsa Jepang membaca dan melihat foto foto yang ditampilkan dalam buku ini.
Mengenai Magarita Winkel, beliau adalah seorang antropolog yang tertarik meneliti budaya Jepang melalui foto foto Jepang tempo doeloe .


Thanks for Mr. Raap, who gave me this book, since he know that I’m a Japanese Freak! Hehehehe… Arigatou gozaimasu RA-PPU-san!!

Kurai Tokoro de Machiawase ( Waiting in The Dark) ~ Rena Tanaka & Wilson Chen






Cerita seorang gadis buta, apakah harus selalu cerita cengeng yang bikin termehek-mehek? "Kurai Tokoro de Machiawase" adalah sebuah film drama yang cukup menarik.
Diceritakan, Michiru Honma (diperankan oleh Rena Tanaka) adalah seorang gadis buta yang hidup berdua dengan ayah yang sangat menyayanginya (diperankan oleh Ittoku Kishibe). Cukup mengharukan nasib Michiru, dia menderita kebutaan ketika mengalami kecelakaan di masa kecilnya, selain itu sang ibu pergi meninggalkannya. Untung saja sang ayah sangat menyayangi Michiru. Hingga tiba saat yang menambah haru nasib Michiru, sang ayah meninggal, entah kenapa meninggal, tidak diceritakan kenapa sang ayah meninggal. Ketika hari penguburan sang ayah, sang ibu hanya melihatnya dari kejauhan, pas sekali menambah keharuan nasib Michiru, ditambah lagi, saudara-saudara Michiru sedikit enggan menampung Michiru dengan berbagai alasan mereka. Sampai disini apakah anda akan mengira cerita film ini akan menjadi cerita sedih dan pilu ala film "Ratapan Anak Tiri" ataupun cerita menderita ala sinetron Indonesia? SALAH BESAR kalau anda akan mengira jalan ceritanya seperti itu. Sayapun sempat menyangka akan seperti itu. Salah besar sekali ternyata... Inilah yang saya suka dari film film Jepang, ceritanya selalu beda dan mengejutkan.
Setelah segala pengantar cerita yang menjebak kita untuk menyangka akan menjadi cerita sedih itu, jalan cerita akan semakin menarik dan penuh kejutan!
Setelah "penolakan" halus dari para saudara untuk merawatnya yang kini hidup sebatang kara semenjak meninggal ayahnya itu, Michiru memberikan pernyataan yang mengejutkan, dengan tegar dia mengatakan bahwa dia akan hidup seorang diri di rumah itu secara dia sudah merasa dewasa. Suatu jawaban yang cukup "menampar" para saudaranya itu. Hehehehe...
Ceritapun bergulir mengisahkan kehidupan seorang diri Michiru dirumah itu. Hingga muncul kejadian yang akan mengubah jalan cerita yang rawan "nangis bombay" ini menjadi sebuah cerita yang sangat menarik.
Dikisahkan suatu saat Michiru mendapati bel rumahnya berbunyi, tampak sosok seorang pria muda, namun karena Michiru adalah seorang gadis buta, Michiru tidak bisa melihatnya. Keadaan ini memang rupanya dimanfaatkan oleh pria itu dengan tujuan menyelinap masuk ke dalam rumah Michiru. Benar saja ketika Michiru membuka pintu depan rumahnya, sang pria perlahan menyelinap masuk secara diam diam tanpa sepengetahuan Michiru secara Michiru memang buta. Sang pria pun tinggal di dalam rumah Michiru tanpa sepenglihatan Michiru, dia memilih tempat di sudut kamar dekat jendela yang menghadap ke arah peron kereta.
Tak lama setelah itu, polisi menghampiri rumah Michiru, menanyakan akan Michiru melihat orang yang mencurigakan, sebab beberapa saat sebelumnya telah terjadi kecelakaan di jalur kereta api yang diduga bahwa itu bukan kecelakaan namun merupakan kasus pembunuhan.
Adegan pun berganti menceritakan sang pria muda itu, ternyata pria muda itu bernama Akihiro Oishi (diperankan aktor pendatang baru Taiwan, Wilson Chen), seorang imigran asal China yang juga keturunan Jepang. Diceritakan bahwa Oishi adalah sosok pemuda yang pendiam, misterius dan enggan bergaul dengan rekan kerjanya, namun dia adalah pekerja yang sangat tekun dan giat. Oishi bekerja pada sebuah perusahaan percetakan. Sifatnya yang dingin itu membuat teman temannya membencinya dan mempermainkannya. Terutama Toshio Matsunaga yang sangat membenci Oishi dan cenderung rasial terhadapnya. Bagi Toshio orang China di Jepang hanyalah pekerja yang miskin. Yup rupanya ada juga kasus racial di Jepang ya..heheheh.
Oishi pun sering dibuat jengkel oleh teman temannya, namun dia berusaha untuk sabar, hingga kekesalan Oishi mencapai puncaknya ketika Oishi dituduh telah melalaikan tugas percetakannya, secara dia telah menyelasaikan tugasnya dengan benar.
Hingga tiba muncul keinginan Oishi untuk membunuh Toshio. Dia tahu benar kebiasaan Toshio yang selalu menunggu kereta untuk berangkat kerja. Muncul keinginan Oishi untuk menghabisi nyawa Toshio dengan mendorong Toshio ke arah kereta yang akan lewat. Dan terjadilah kecelakaan kereta yang mengakibatkan tewasnya Toshio dengan tragis. Saksi mata melihat Oishi yang berada di dekat Toshio kala itu. Hingga Oishi pun dicurigai pelakunya. Oishi pun lari dari kejaran petugas dan menuju ke rumah Michiru.
Dan cerita pun bergulir tentang kehidupan Michiru dan Oishi dalam rumah itu.
Ceritapun berjalan menjadi cerita yang sangat menarik. Seperti biasa saya tidak akan menceritakan secara detail, secara cerita awal film ini yang bergenre drama menjadi cerita film misteri pembunuhan! Jadi nggak seru kalau saya ceritakan detail apalagi endingnya. Hahahahaha
Apa maksud Oishi masuk dan tinggal di rumah Michiru, kemudian apa maksud Oishi memilih selalu duduk di jendela yang menghadap peron stasiun kereta? Dan apakah benar Oishi pembunuh Toshio, secara saksi mata hanya melihat Oishi seorang di dekat Toshio? Kemudian bagaimana nasib Michiru dimana tanpa sepenglihatan Michiru telah menyelinap masuk seorang pembunuh.... Apa yang terjadi pada Michiru?
Jawaban akan anda temui dengan menyaksikan filmnya. Sekali lagi ini adalah sebuah film yang cukup menarik dan ceritanya akan tidak dapat disangka-sangka. Dan tanpa ragu lagi saya memberikan bintang penuh untuk penilaian film ini. hehehehehe
Rena Tanaka adalah aktris muda yang cukup berbakat di Jepang, kali ini dia beradu akting dengan aktor muda pendatang baru dari Taiwan Wilson Chen. Suatu kolaborasi yang cukup bagus. Dan jalan ceritanyapun cukup menarik, bisa anda bayangkan, seorang gadis buta yang tanpa sepengetahuannya, dalam rumah sang gadis ada seorang pria yang menyelinap masuk secara diam diam dan tinggal bersamanya. Cukup menarik bukan?
Cerita film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama, "Kurai Tokoro de Machiawase" (Menunggu dalam tempat gelap), buah karya Otsuichi.
Bagi anda fans dari si imut cantik Rena Tanaka, wajib nonton nih film, bagi yang bukan fans Rena Tanaka, setidaknya anda menyaksikan sebuah cerita yang cukup menarik dan tidak membosankan, terpaku pada kursi anda untuk mengetahui jawaban atas segala misteri yang ada... Istilah jepangnya "Me no ue no kobu" alias "mengikat mata=terus mengikuti"...It's worth to see geto lhooooo... what you see is what you get....hahahahahahah

Kamis, 06 Mei 2010

Welcome to my asian world.

Hi, I'm Hajime Morimatsu.
Welcome to my blog, hope you enjoy reading my blog.
I love asian culture, especially Japanese culture.
Hope my blog can give you information about asian matter that you looking for.
Thanks for visiting, please feel free to give me feed back such as comments or improvement/positive critics.

Kind regards,
Hajime